Senin, 18 Oktober 2010

(My First Mini Novel Bab#2) Rumahku Negeri Kecilku

Assalamualaikum

Rumahku, Negeri Kecilku

SEMILIR...Perasaan pertama yang dirasakan seseorang yang baru pertama kerumahku. Rindang kata kedua yang sering kudengar, dan sepi kata-kata yang selalu diucapkan bagi mereka yang terjebak dirumahku saat malam hari. Sempurna perpaduan antara Semilir Rindang dan Sepi, dan hampir dekat dengan sifat tempat bernama Hutan, Aku rasa. Memang rumahku adalah tempat yang bisa dibilang luar biasa. Diapit oleh aliran sungai yang gemericik memecah heningnya malam, sungai yang menurutku bentuknya aneh, mempunyai tepi yang besar mirip jurang yang terus terkikis namun aliran airnya kecil dan lamban ditengah tengah. Mungkin akibat perubahan alam. Ditepinya dirimbuni pohon bambu yang menggerombol bernuansa teduh bercampur angker, jika malam datang pastinya timbul kengerian dan gelap yang menakutkan. Beberapa batang bambu condong kearah sungai membentuk lengkungan dan biasanya saling bertemu ( dari kedua tepi sungai ) membentuk suatu atap, atap sungai. Alangkah indahnya.

Rumahku juga dikelilingi pohon pohon jati (karena memang ada beberapa petak disamping rumahku, malahan bisa disebut hutan) yang tegak menghadap langit. Saat musim semi ( di jawa tentunya), dari dahannya tumbuh tunas menghijau dengan daun yang khas melingkar luas. Dan jika musim kemarau sedikit demi sedikit daunnya mengering dan berjatuhan mengotori pekarangan. Pohon menjadi telanjang dan kering diterpa angin yang kering, panas. Orang kota menyebutnya meranggas.

Ngomong-ngomong tentang jati , dikampung ada kebiasaan yang unik ( namun sekarang sudah ditinggalkan). Saat musim meranggas, penduduk Kampung tua hingga muda berkumpul dibawah pepohonan jati mengais-ngais daun jati yang kering, membusuk dan bercampur dengan tanah, mencari daun yang disarangi ungker, kepompong dari ulat yang sebelumnya melahap habis daun hijau. Kepompong itu sebesar biji padi besar yang dibungkus mirip sekat plastik melingkar berwarna merah. Kepalanya dapat berputar kekanan dan kiri saat tubuhnya dipegang, hebat....berputar mirip baling baling dan sering kami jadikan mainan tentunya sebelum para emak-emak menggorengnya menjadi lauk yang super gurih, sebuah kenangan yang mengesankan.

Kembali kerumahku, sudah kuceritakan tentang sungai, hutan, sekarang tinggal persawahan. Disamping timur rumah terbentang hamparan sawah yang maha luas ( bukannya berlebihan, memang rumahku pinggiran kampung yang langsung berhadapan dengan sawah, sawah berpetak petak terlihat menyambut rumahku. Pada musim cocok tanam selalu terdengar orkestra jangkrik berkolaborasi dengan kodok mengkorek. Sungguh ramai apalagi ditambah suasana rintik rintik yang jatuh diantara sela sela pohon waru ditepi petak sawah. Memang kadang kadang suasana riang itu terbalut aura kengerian saat petir menyambar, cahaya berbinar diatas sana. Namun keseluruhan masa itu sungguh romantis dan teduh.

Musim tanam bergulir menjadi musim berbuah, berisi, dan menguning. Bijih padi yang sudah semakin menua bertambah berat sehingga tampak merunduk keberatan. Masa masa ini paling banyak ditemui makhluk bertulang luar, serangga hama yang susah diberantas, belalang. Hampir disetiap pojok sawah bisa ditemukan binatang ini. Merayap diantara batang hijau padi,menggerogoti dedaunan yang asalnya hanya sebesar titik noda lama kelamaan menyerupai lubang jaring raket, hama yang sulit dibasmi. Demi melampiaskan amarahnya kami, para anak anak kelaparan sering nyuloh, ritual menangkap belalang ganas dengan bantuan obor dan jaring, tentunya dilakukan malam hari. Sekali nyuloh bisa mendapatkan satu karung besar pupuk pusri dan esok paginya siap dijadikan teman hidangan nasi di meja makan, kami membalas dendam dengan menggilas tubuh renta mereka dimulut kami. Balasan yang timpal.

Persawahan musim kemarau tidak kalah serunya, meski hasil taninya tidak seramai musim penghujan. Biasanya emak – bapak menanam kacang kacangan, kacang tanah, jagung dan tanaman kering lainnya. memang masa yang sulit didapatinya air berlimpah , beresiko kalau kami menanam tanaman yang butuh banyak minum, untuk mandi minum saja susah.

Ohh..belum kuceritakan ya...Masa SD ku....Kalau musim kemarau tiba, semua orang hanya memikirkan satu hal, satu yang sangat berharga untuk kehidupan, minum, memasak, mandi, mencuci. Satu kata ajaib , AIR. Tua muda, pria dan perempuan, saling berbondong mendorong sepeda unta dengan disampirkan kedua sisi dirigen besar. Kadang hanya membawa ember dan gentong panggul dari tanah liat. Semuanya mendatangi sumur sumber air.

Di Bagian Utara Kampung, ada sumur cukup besar dengan mata air yang melimpah kepunyaan Juragan tebu. Aku sering diminta mengambil air disana, seperti yang lain sepeda unta berderigen. Aku tak terlalu suka dengan sumur itu, bukan apa apa, si empunya sangat kurang dari kata ramah. Juragan tebu Kaya raya membatasi waktu pengambilan air dan diperbolehkan saat fajar hingga terang, saat siang ditutup kemudian dibuka lagi saat malam tiba. Sungguh menjengkelkan, ini namanya monopoli sumber daya alam pikirku. Tapi mau apa lagi , toh ini sumur kepunyaannya.

Ternyata banyak penduduk Kampung yang memang tidak suka dengan monopoli tersebut. Mereka lebih suka mengambil air dari sumur dibagian selatan Kampung, tepatnya jauh dialiran sungai pinggir persawahan selatan Kampungku. Tidak cocok kalau dibilang sumur, hanya merupakan kolam galian seadanya dari bekas sungai yang surut saat kemarau. Lumayan dalam Galiannya, kira kira tiga hingga lima meter baru bisa keluar mata air yang sembunyi sembunyi saat masa kering kerontang.

Disini lebih bersahabat karena tidak ada sistem kolonial yang berlaku dan memang airnya melimpah ruah, namun masa sulitnya adalah diperjalanannya. Jarak yag ditempuh dari Kampung hingga goakan besar itu melalui jalan setapak persawahan yang seadanya, sangat berdebu apalagi waktu tengah hari yang sangat panas, angin menghembuskan tanah persawahan seakan menyerang penduduk yang melintasi jalan itu. Permukaannya juga mirip dengan pematang sawahnya, bergelombang dan berbatu, sungguh tidak mengasihani sepeda ontel para pemburu air. Saat itulah kupelajari satu nilai bahwa hidup itu perjuangan dan hidupku dan keluargaku pantas untuk diperjuangkan.

Rumah unikku, tiada tandingannya, dengan diapit dua samudra ( sungai bergemericik sahdu), dua benua Australia ( Persawahan dan ladang) dan Asia ( Hutan jati nan hijau, asri dan cantik). Rumah yang pantas kusebut Indonesia kecil, Indonesia kecil yang menyambut kelahiranku, Indonesia kecil yang mengajarkanku merangkak hingga dapat berjalan terseok seok, Indonesia kecil yang mengajarkanku arti kehidupanku hingga menginjak remaja. Dan pastinya Indonesia kecil dimana aku berkumpul, suka duka, dan saling kasih sayang dengan emak bapak, Masku Rahmat, dan saudara kerbauku.


Tidak ada komentar: