Kamis, 21 Oktober 2010

(My First Mini Novel Bab#3) Ku Tak Diharap

AssalamualaikumI Love U FULL

Baca ::: Simak :: Koment



Maaf kalau sejauh ini aku belum memperkenalkan diriku. Keluargaku, emak, bapak, mas dan mbakku memanggilku Mur. Teman ku badrun dan amin memanggilku Mur pula. Jadi kalian silahkan memanggilku Mur saja, seperti yang lain. Sedikit tentang keluargaku, Bapakku petani yang seperti petani lain, tidak ada istimewanya. Tiap pagi menyandang cangkul dipunggung dan sabit ditangan kiri. Dicelana pendeknya yang tampak kumal, kusut menyitrakan bahwa dicuci seminggu sekali, nampak gundukan segenggam kepalan tangannya, jangan khawatir itu hanya plastik berisi tembakau dan cengkih untuk udut disela sela harinya. Caping tua setua wajahnya hinggap dikepala yang penuh uban. Memang aku sering kasihan orang setua itu masih saja berjungkir balik membanting tulang yang kecil da n rapuh, tiap menatapnya hati ini suka merintih seolah melarangnya untuk tetap meladang. Ia adalah Bapak dan satu satunya Bapak. Sayang aku tidak terlalu banyak bicara dengannya. Bapakku terlalu dingin akupun pula.

Emak bisa dibilang sekuat siti maryam bunda nabi Isa ( bukan dari mengandung tanpa ayah, tapi karena kekuatan, ketegaran, kesabaran, dan kebesaran hatinya) , Ibu yang aku sayangi. Ibu yang bisa apa saja, dirumah beliau mengurus anak anak yang nakal dan tak tahu diri ( aku), mencuci, memasak, mengambil air ( disumur selatan atau utara tidak dipedulikan), dan aktifitas rumahan semuanya. Beliau pun membantu Bapak diladang, menanam padi, menyiangi, bahkan bisa juga mencangkul tanah. Emak yang Wonderful.

Masku, sumber inspirasi dan konspirasiku. Mas yang mengajarkanku bagaimana bermain, bagaimana membuat layang layang, berenang disungai, memancing ikan, memanjat pohon tinggi ( masku pernah jatuh saat memanjat pohon asem berduri dan sampai sekarang tertinggal tanda sayatan panjang dikaki kanannya) bahkan mencuri semangka di ladang tetangga pun pernah diajarkan padaku. Seluruh skill alam peKampungan ada pada masku ( mirip dengan amin temanku) berlawanan dengan diriku yang payah.

Memang diakui kata emak, mas rahmat saat seumuranku dikenal kenakalannya seantero Kampung. Namun saat menginjak dewasa dan menjadi tulang punggung keluarga ketika bapak dilanda sakit sakitan, seorang rahmat menjadi lelaki yang tanggung jawab kepada keluarga, banting tulang sana sini, merantau ke jakarta hingga jambi ( mengumpulkan getah karet di kampung melayu) untuk menyambung sekolahku pun dilalui. Sungguh sumber inspirasi konspirasiku.

Anggota terakhir dikeluargaku ( selain hewan piaraan masku, kambing jantan bernama bodong) yaitu aku. Anak bungsu kurus kering dan jangkung. Gimana ya menggambarkan diriku ( terkadang memang susah seseorang menilai diri sendiri, lebih enak menilai dan mengomentari orang lain) semua ketidak sempurnaan bernaung dimuara ragaku. Pertumbuhanku kurang stabil dilihat dari tubuh yang memang selangsing model milan yang pobia pada kegemukan dan memuntahkan semua makanannya. Bukannya badanku tumbuh melebar malahan terus meninggi dan meninggi, diantara sebayaku aku tetap menjadi si cungkring atau tiang listrik.

Begitu pula sudah kuceritakan sebelumya, aku anak Kampung yang bukan berjiwa Kampung. Aku payah dalam semua bidang keKampungan, dalam memanjat, berlari, sepakbola, memancing, berkelahi hingga mencuri. Mas rahmat memang selalu mengajakku setengah hati tiap berpetualang, berburu susoh ( sarang burung yang sudah menentas dan siap dipelihara), Tawu hingga mencuri mangga, naun berakhir pada kekecewaan didalam hati karena selalu menggagalkan rencana karena kelambanan atau kepayahanku. Sungguh menyebalkan.Pernah sang inspirator ini keceplosan andai adiknya amin si anak alam, si pendekar hutan. Aku pun mengamini dengan khusu’.

Segala kepayahan dan kelemahan segera menghilang ditelan malam dan berubah menjadi kesempurnaan saat ku berada dipangkuan emak. Si dewi penentram hati dan peredam kekecewaan. Setiap aku pada taraf kemalangan, beliau menghampiri dengan mengusap perlahan punggung berakhir dirambut yang kumal. Membisikkan kata kata sejuk “ Mur, kamu sangat istimewa buat emak dan bapak dan suatu hari akan kau temukan harta kamu itu” hibur emak.

Memang aku pantas dikucilkan atau sejak awal ditakdirkan sebagai makhluk yang aneh, direndahkan, disepelekan dan tak dianggap. Pernah aku mendengar celotehan Bude kalau aku memang tidak diharapkan lahir di dunia fana ini.

“ kau ini Mur, kau ini seharusnya ndak bisa lahir, kok bisanya masih bertahan sampai sekarang ya, dulu kau mau dibuang ke sungai, melihat ulah pakmu waktu dulu, beruntung kamu Mur” perkataan ngawur Bude yang tanpa memikirkan hatiku

Entah ini benar atau hanya celotehan remeh belaka, namun mampu menghujam hatiku hingga memaksa air mata ini tumpah keluar, aku patah hati.

Saat Emak mengandung sembilan bulan anak kedua, masa yang sulit dan penuh kemelaratan. Emak dulunya dari keluarga yang lumayan, namun masalah perebutan warisan dan ini itu walhasil hanya diperolahnya sepetak tanah yang menjadi tempat bernaungnya sekarang, tanah yang berbau kemiskinan. Sedangkan Bapak bukan dari keluarga yang kaya yang mempunyai sawah berhektar hektar dan kerbau yang bertebaran digubuk kandang pojok rumah, dari keluarga ningrat Kampung kami. Malahan Bapak dulu bukan contoh bapak yang kusayangi ( hingga sekarang rasa itu masih ada).

Masa muda bapak penjudi addiktif yang tidak jauh dari kemiskinan. Dimana ada hajatan pasti dia sudah menggelar tikar dengan tumpukan kartu remi atau gaplek judi didepan kakinya. Semua penduduk Kampung sudah familiar dengan hal ini. Hukum alam pun terjadi, penjudi ataupun pencuri sama halnya pemabuk, yaitu tak kan pernah kaya, cukup ataupun sejahtera. Penderitaan bukanlah diderita sang penjudi, tapi tertambat pada sang istrinya.

“Mas berubahlah mas, kita sudah miskin begini, janganlah diperparah, ingat mas! Saya sedang mengandung” Isak emak lirih, bapak menghilang dikejauhan tanpa rasa peduli.

Jika bapak menang tidak sepeserpun diberikan kepada emak, pasti digunakan berfoya foya tak tahu diri. Namun jika sedang kalah besar, serasa setan keluar dari sekujur aliran darahnya. Diluapkan langsung ke emak dengan brutal, memukul meninju dan menghajar. Mas rahmat juga dapat jatah kemarahan tak bersebab itu ( masku mungkin berumur lima tahun dan tak tahu apa apa).

Saat itu mungkin rumah emak tidaklah lebih bagus dari kandang kerbau juragan Kampung. Hanya rangka tiang kayu rapuh yag saling dihubungkan berbentuk kubus reot dan dibalut dinding bambu sulaman yang dekil dan bolong disana sini, bahkan tidak bisa menghalau kedinginan saat hujan deras dan angin bertiup kencang, sesekali dinding itu terjatuh atau melayang terbawa angin.

Sedangkan atapnya ku tidak bisa membayangkan kumuhnya. Kata emak ( aku sedikit lupa, beliau bercerita sambil menangis tersedu sedu, jadi aku kurang jelas menangkap) atap dibuat dari anyaman daun alang alang atau semacam daun kelapa yang dibalut pada ranting dan potongan bambu, ditumpuk bersusun mmbentuk atap yang primitif dan menyedihkan. Mungkin kalau kalian tidak bisa membayangkan, lihat saja atap rumah adat Papua atau suku Asmat. Ya seperti itulah. Jangan pikirkan kenyamanan tidur emak dan mas rahmat, hanya bilik bambu yang beralas bambu pula sehingga saat tidur, terasa benjolan bambu menusuk punggung mereka dan terbangun dalam keadaan nyeri otot dan pegal linu. Bayangkan emak sedang mengandung anak keduanya.

Kekejaman diperparah dengan kemelaratan dan kekurangan gizi. Saking melaratnya untuk makanpun sulit sekali. Menu makan emak dan mas rahmat sangat menggiurkan, menggiurkan untuk muntah. Zaman itu yang dinafkahkan bapak sangt menyedihkan. Ketela pohon godog dan kadang nasi jagung dilengkapi lauk sambal atau garam, jika terpaksa tidak ada apa apa.

Sangat realistis jika orang orang, emak ataupun setiap manusia yang peduli kepada keselamatan balita, kebutuhan gizi dan naungan kehidupan yang layak tidak menghendaki aku lahir, atau bisa diartikan saat itu bukan waktu yang tepat untuk aku dilahirkan.

Seperti ayat Gusti, kesulitan pasti diobati kebaikan. Pepatah jawa mengajarkan emak kesabaran berbuah kesuburan. Seperti ada keajaiban terjadi sejak kelahiran anak kedua pasangan emak bapak, kelahiranku. Mungkin setan sudah kecapekan menuruti langkah jahanam bapak, mungkin juga sisi malaikat bapak baru sembuh dari tidur panjangnya, emak yakin bahwa aku membawa berkah dengan tobatnya ayahku, dan ayahku menjadi lelaki dan ayah yang terhormat dihadapan keluarganya, setidaknya sedikit demi sedikit. Semua profesi iblisnya ditanggalkan. Kartu remi dan dadu kumal dibakar dihadapan emak sambil berjanji akan melupakan, menjauhi dan meninggalkan segala macam perjudian.

Pemalas, nista dan penyedot darah kucing hamil berganti menjadi pekerja keras, kyai ( yang dirasakan emak saja) dan suami yang membanting tulang pagi hingga petang. Alangkah bangganya aku mendengar cerita emak hingga mataku berkaca kaca dan mensyukuri kelahiranku yang mempunyai kemanfaatan menyembuhkan orang gila.

Emak mengusap pipiku pelan dan membetulkan kacamata kuda tebalku. Kulihat diujung meja sana mas rahmat sedikit mengusap mata lebarnya sambil tersenyum paksa tanda dia baik baik saja, kemudian secepat mungkin menghindar dari ejekanku ( tentang pria dewasa yang menangis) menuju kandang si Bodong.


1 komentar:

Aliepati mengatakan...

hememme.. jarang yang suka novel ya,hehehe