Minggu, 10 Oktober 2010

(My First Mini Novel" langit di Desaku #1) Desa , Ironi Kehidupan

Assalamualaikum

(BACA, SARAN, KRITIK, COMMENT)

DULU……Hijau, hijau dan menghijau. Sejauh mata memandang, yang terlihat dari setiap penjuru mata angin adalah warna pohon, pertanian, hutan, ladang dan padang, semuanya hijau (kecuali kamu berada saat musim kemarau).

Bukit berjejer rapi bak tentara berbaris siap bertempur, terbentang disebelah selatan. Gundukan itu berkumpul, berpasangan dan dari kejauhan mirip bentuk punuk (punggung) sapi. Masyarakat Kampungku memanggilnya gunung sapi. Masih sangat hijau pepohonan disana, dengan ramahnya mensuplai oksigen segar khas perkampungan, bebas polusi dan dapat menghilangkan stress dikepala sekali hirup.

Akar akarnya dapat menampung mungkin ribuan kubik ( atau entahlah satuan untuk) air bersih yang kemudian dikeluarkan dalam bentuk mata air sungai, memberkati semua makhluk, baik tanaman pertanian, ternak maupun kami, manusia penduduk Kampung. Saat musim penghujan, air berlimpah membasahi pegunungan, hutan dan pohon. Saat itulah akar akar menyedot air kehidupan yang akan dibagikan saat kemarau tiba. sungguh sistem yang tiada cela.

Sungai sungai berliuk membuat aliran yang memang rumit, aku sempat berpikir kenapa alirannya tidak bergaris lurus saja, atau bentuk lain saja (maklum kanak kanak) tapi yang ada hanya bentuk berbelok belok tak beraturan, seakan seenaknya air mau pergi kemana. Kadang kadang lewat dibawah gerombolan pohon bambu yang menjulang tinggi, terus membelok lagi 180 derajat mengaliri padang ilalang gersang. Entah inilah alam.

Waktu kecil, aku, badrun dan amin paling suka mancing di kali yang berbelok liar itu. Dengan pancing bambu yang dipotong sekenanya, digerus sampai kelihatan lebih halus dan tidak melukai kulit kami saat dipegang. Sementara ujung yang lebih kecil ditambatkan tali kenur yang tipis. Ujung kenurnya diikat kawat kecil tajam melengkung yang akan dipasang potongan kecil cacing tanah sebagai umpan yang menggiurkan. Tidak jauh jauh kami dapat umpan lezat itu, dipinggir kali atau pematang sawah adalah tempat ternyaman yang biasa ditinnggalinya.

Aku paling tidak sabar saat memancing. Sedikit sedikit pasti kuangkat bambu pancingku, tak berbuah hasil. Dengan nada yang kecewa kulemparkan umpan kempat lain yang lebih dalam, sama seperti sebelumnya tak berhasil. Sial gumamku. Berbeda denganku, amin pantas disebut anak alam, minimal anak hutan. Seakan setiap keterampilan Kampung ada padanya, memancing, membuat layang layang, berburu burung liar, dia selalu jago. Aku suka iri berbaur takjub kepadanya.

Berdiri diam laksana pohon mahoni yang teguh meski diterpa angin kemarau, amin berkonsentrasi memegang batang pancingnya yang sedikit lapuk karena dimakan rayap kelaparan. Tiba tiba matanya melotot serius pada satu titik, badannya diam membatu. Air bergemericik dan tali kenurnya tertarik cepat ke arah melawan amin. Dengan sigap tubuh amin mencondong kebelakang, menarik batang pancing dengan perlahan namun mantap. Semakin lama kenur kailnya keluar dari air dan sesosok makhluk abu abu gelap yang berkulit licin keluar dari permukaan kali yang tenang. Terbang menuju daratan tertarik kail amin. Lele sungai bergelepar kanan kiri dipinggir kali, seakan rindu ingin bernapas kembali dalam air untuk terakhir kalinya. Sungguh nasib yang malang bagi Lele berpatil tajam itu, namun menjadi kegembiraan yang tiada tara untuk anak Kampung yang sudah kelaparan seperti kami ini.

Memang untuk urusan skill bertahan hidup, aku paling jelek. Hanya ikan wader sebesar jempol dan beberapa udang berhasil kutangkap. Itupun aku sudah menekuri banyak kedung kali yang dalam. Lebih beruntung si badrun, saudara kerbau ku. Tangkapan belut hampir seukuran jempol bapak bapak dan panjangnya tigapuluh sentimeter, ditambah ikan Kokok yang baru menginjak masa remaja. Aku memang payah dari mereka. “Sudahlah Mur, ni kukasih Kokok punyaku, tapi jangan ngambek ya,” Amin sambil terkekeh dan badrun menimpali dengan seyum menahan tawa khasnya “ tenang Mur, lain kali pasti dapat, saudaraku” . Akupun sedikit tenang, meski kurang cakap, tapi aku adalah orang termujur seKampung, bahkan sedunia. Karena dikelilingi teman teman yang baik hati seperti mereka. Sisa sore kami habiskan untuk membakar hasil pancingan dan ditutup dengan acara mandi bersama di kedung besar, Indahnya masa kanak kanakku.

Dari ceritaku diatas teman! , alangkah bersyukurnya diriku kepada Gusti Allah, sudah mentakdirkanku hidup diperkampungan ini. Betapa kayanya alam kami, Bukit bukit nan rindang ditumbuhi pisang, mangga dan nangka yang siap diunduh anak anak Kampung yang memang sering kurang makan dirumahnya. Hamparan sawah menghijau yang menghasilkan beras dan nasi yang pulen, sangat menggiurkan untuk disantap. Mau sayur tinggal petik disamping rumah ( Rumah kampung yang memang jaraknya jauh , sehingga banyak tanah kosong yang biasa ditanami kebun sayur untuk sehari-hari). Ingin ikan ya silakan mancing dikali atau kalau mau jumlah banyak, bisa Njenu atau Tawu. Pokoknya sangat sejahtera sekali jika penduduk Kampung bisa memanfaatkan alam sebagaimana semestinya… Dulu..

Tapi begitulah warna hidup, tidak ada jalan ataupun sungai yang lurus. Kehidupan ini adalah ironi, permainan alam pikiran, antara kecerdasan dan kebodohan. Alam yang begitu kaya dimiliki kaum yang kolot dan tamak. Tanah yang subur tapi petani menanam benih seadanya. Ladang yang sempurna namun masih memasrahkan hasil pada kehendak alam. Satu kekurangan yang kuakui sebagai anak Kampung, kami sedikit memakai kecerdasan dan Pikiran jernih serta megedepankan ketamakan.
Sering kudengar cerita emak, jaman mbahku dulu masih mengolah sawah dan menggembala ternak, saat dia masih berbadan kekar dan emak masih bermain masak masakan. Bahwa alam dulu masih jauh lebih kaya.

“hampir tiap genangan air ada ikan lele, belut dan kokok sebesar tangan kakek. Tiap kedung dihuni ikan yang tidak akan habis dipancingi tiap hari. Panen melimpah tiap musim hujan, dan ternaknya sangat gemuk dan beranak pinak dengan cepat dan sehat. Pokoknya dimasa lalu hasil alam berlimpah ruah”

Namun lanjut emak “ sekarang sudah susah memancing ikan wader sekalipun. Hasil panen juga sejadinya, yang penting bisa menyambung hidup”

Tanah semakin gersang dan hujan tak tentu pula. Yang paling kentara katanya aliran sungai tidak sederas masa lampau, jadi ladang pun ikut mengering dan ternakpun mulai kesulitasn mencari rumput hijau. Benarkan ini ulah dari kami mengabaikan pikiran jernih dan memuja ketamakan?


Tidak ada komentar: